Membaca Wahyu dengan Mata Perempuan: Kritik Feminisme Muslimah atas Tafsir Falosentris Ayat-Ayat Relasi Gender
Judul Buku: Membaca Wahyu dengan Mata Perempuan: Kritik Feminisme Muslimah atas Tafsir Falosentris Ayat-Ayat Relasi Gender
Tata Letak: Feni Efendi
Desain Sampul: Dr. Andi Ridwan, Lc., Dipl., M.A
Diterbitkan oleh:
Penerbit Fahmi Karya
Anggota IKAPI No. 047/SBA/2024
Jl. Gunung Bungsu RT 01/RW 02, Sumur Cindai
Kelurahan Tiakar, Kota Payakumbuh, Sumatera Barat 26231
HP/WA: 081377856115
Email: penerbitfahmikarya@gmail.com
Website: www.penerbitfahmikarya.com
Cetakan Pertama, September 2026
xii + 266 hlm: 15,5 x 23 cm
Front CAMRIA, 1,15 Spasi, Size 11
SINOPSIS
Al-Qur'an pada hakikatnya adalah kitab petunjuk yang sarat dengan prinsip universal keadilan, kesetaraan, serta penghormatan terhadap martabat kemanusiaan. Namun demikian, penafsiran atas teks suci tersebut tidak pernah hadir di ruang hampa yang steril dari pengaruh sosial, budaya, politik, dan horizon historis sang mufasir. Sejarah mencatat bahwa mayoritas korpus penafsiran klasik yang mendominasi diskursus keislaman dikonstruksi dalam ruang patriarki yang kental, sehingga bias gender tak terhindarkan dalam membentuk cara pandang umat terhadap relasi antara laki-laki dan perempuan.
Buku ini hadir sebagai wujud ikhtiar untuk melakukan re-evaluasi dan dekontruksi terhadap pemahaman-pemahaman keaga-maan yang bercorak falosentris. Corak penafsiran falosentris cenderung menempatkan kesadaran, pengalaman, dan otoritas laki-laki sebagai pusat tolok ukur kebenaran tunggal, sementara pengalaman serta posisi kemanusiaan perempuan sering kali dipinggirkan atau sekadar dija-jarkan pada subordinasi teks. Melalui kerangka kritik feminisme Muslimah, karya ini berusaha memperlihatkan bagaimana prinsip kepemimpinan, hak-hak domestik, hingga kewarisan sering kali dipa-hami secara mekanis tanpa mempertimbangkan nilai-nilai etik-substantif Al-Qur'an.
Pendekatan hermeneutika keadilan gender yang diusung dalam kajian ini bukan bertujuan untuk mendekonstruksi kesucian teks Al-Qur'an itu sendiri, melainkan untuk membedakan secara tegas mana pesan wahyu yang bersifat transendental-universal dan mana produk penafsiran manusia yang bersifat kontingen-historis. Melalui pem-bacaan kembali yang kontekstual dan komunikatif, buku ini menawar-kan metode rekonsiderasi tafsir yang mampu menghadirkan wajah Islam yang inklusif, responsif terhadap perubahan sosial, serta selaras dengan semangat kesetaraan hakiki.
