Fajar Pembebasan Al-Aqsha: Menghitung Mundur Waktu melalui Seni Kepemimpinan dan Diplomasi Salahuddin Al-Ayyubi dalam Hubungan Internasional Kontemporer
Judul Buku: Fajar Pembebasan Al-Aqsha: Menghitung Mundur Waktu melalui Seni Kepemimpinan dan Diplomasi Salahuddin Al-Ayyubi dalam Hubungan Internasional Kontemporer
Penulis: Muhammad Aliffarras Prasetyo, S.Tr.IP., M.M dan Dinda Difia Madina, S.H., M.H., PhD
Tata Letak: Feni Efendi
Desain Sampul: Feni Efendi
Diterbitkan oleh:
Penerbit Fahmi Karya
Anggota IKAPI No. 047/SBA/2024
Jl. Gunung Bungsu RT 01/RW 02, Sumur Cindai
Kelurahan Tiakar, Kota Payakumbuh, Sumatera Barat 26231
HP/WA : 081377856115
Email : penerbitfahmikarya@gmail.com
Website : www.penerbitfahmikarya.com
Cetakan Pertama, Agustus 2026
viii + 282 hlm: 15,5 x 23 cm
Font CAMRIA, 1,15 Spasi, Size 11
SINOPSIS
Penulisan buku ini merupakan sebuah ikhtiar intelektual untuk membedah kembali lembaran sejarah besar Islam melalui lensa yang relevan dengan dinamika geopolitik masa kini. Penulis berharap karya ini dapat memberikan kontribusi bagi pemahaman kita akan pentingnya integritas, strategi, dan kemanusiaan dalam memimpin peradaban.
Buku ini lahir dari kegelisahan akan pentingnya melihat sosok Salahuddin Al-Ayyubi bukan sekadar sebagai panglima perang yang legendaris, melainkan sebagai seorang diplomat ulung yang cerdas dalam mengelola krisis. Di tengah kompleksitas dunia internasional modern, strategi Salahuddin dalam mempersatukan wilayah yang terpecah dan diplomasinya yang elegan dengan lawan politik, menawarkan pelajaran berharga tentang bagaimana kedaulatan sebuah kawasan harus dibangun di atas fondasi kemandirian dan etika.
Dalam setiap babnya, buku ini berusaha menelusuri bagaimana Salahuddin membangun Smart Power yang memadukan kekuatan militer dengan kelembutan diplomasi. Fokus pembahasan tidak hanya terbatas pada catatan kronologis peristiwa Hattin atau Perjanjian Ramla, melainkan juga menyoroti bagaimana etika perang dan toleransi yang diterapkan beliau menjadi preseden awal bagi hukum humaniter internasional. Inilah sisi kemanusiaan yang sering kali terlupakan di balik narasi-narasi besar sejarah.
Selanjutnya, buku ini menyoroti pentingnya peran manajemen krisis di tengah disintegrasi politik yang dialami dunia Islam pada masa itu. Analisis yang disajikan dalam buku ini mencoba menarik benang merah dari tantangan masa lalu ke tantangan masa kini, di mana faksionalisme dan egoisme politik masih menjadi hambatan utama bagi terciptanya perdamaian dunia yang sejati. Melalui studi kasus ini, penulis mengajak pembaca untuk merenungkan kembali arti dari sebuah kepemimpinan yang menyatukan.
