Batang Agam: Transformasi Sungai Menjadi Koridor Ekonomi Modern dan Riverfront City Payakumbuh
Judul Buku : Batang Agam: Transformasi Sungai Menjadi Koridor Ekonomi Modern dan Riverfront City Payakumbuh
Tata Letak: Feni Efendi
Desain Sampul: Feni Efendi
Diterbitkan oleh:
Penerbit Fahmi Karya
Anggota IKAPI No. 047/SBA/2024
Jl. Gunung Bungsu RT 01/RW 02, Sumur Cindai
Kelurahan Tiakar, Kota Payakumbuh, Sumatera Barat 26231
HP/WA: 081377856115
Email: penerbitfahmikarya@gmail.com
Website: www.penerbitfahmikarya.com
Cetakan Pertama, Mei 2026
viii + 73 hlm: 15,5 x 23 cm
Front CAMRIA, 1,15 Spasi, Size 11
SINOPSIS
Buku ini hadir sebagai upaya dokumentasi atas perubahan besar yang terjadi pada salah satu aset alam paling berharga di Kota Payakumbuh. Batang Agam, yang dahulu mungkin hanya dipandang sebagai aliran air di "halaman belakang" kota, kini telah bermetamorfosis menjadi wajah depan yang membanggakan, sekaligus menjadi urat nadi baru bagi kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.
Buku ini disusun untuk memotret perjalanan transformatif Ba-tang Agam dari perspektif yang komprehensif. Melalui narasi di dalam-nya, pembaca diajak melihat bagaimana penataan sungai yang cerdas dan terintegrasi mampu mengubah lanskap perkotaan menjadi sebuah Riverfront City yang modern. Penataan ini tidak hanya berfokus pada keindahan estetika semata, namun juga menitikberatkan pada fungsi ekologis sebagai pengendali banjir yang andal, memberikan rasa aman bagi warga yang menggantungkan hidup di sepanjang bantarannya.
Salah satu fokus utama dalam buku ini adalah dampak ekonomi makro dan mikro yang timbul akibat revitalisasi koridor sungai. Kita akan melihat bagaimana kenaikan nilai properti, munculnya pusat-pusat olahraga terpadu, hingga geliat UMKM berbasis keluarga menjadi bukti nyata bahwa ruang publik yang dikelola dengan baik adalah mesin pertumbuhan ekonomi yang sangat efektif. Batang Agam telah berhasil menciptakan ekosistem baru di mana investasi, pariwisata, dan pember-dayaan masyarakat lokal dapat berjalan beriringan secara harmonis.
Lebih dari sekadar infrastruktur fisik, Batang Agam juga meru-pakan saksi bisu sejarah dan perjuangan bangsa. Keberadaan Jembatan Ratapan Ibu di koridor ini menjadi pengingat yang kuat bahwa moder-nisasi tidak boleh mencabut akar identitas budaya. Buku ini mencoba menyelaraskan narasi kecanggihan fasilitas modern—seperti arena skateboard, panahan, dan taman bermain anak—dengan nilai-nilai heroisme masa lalu, menciptakan sebuah kawasan yang memiliki "jiwa" dan karakter unik yang tidak dimiliki daerah lain. Penulis menyadari bahwa keberhasilan transformasi Batang Agam merupakan hasil kolaborasi multidimensional antara pemerintah, akademisi, sektor swasta, dan partisipasi aktif masyarakat. Oleh karena itu, draf buku ini juga merangkum berbagai data penelitian dan regulasi yang menjadi landasan pembangunan, menjadikannya referensi penting bagi siapa saja yang ingin mempelajari manajemen pembangunan kota berbasis lingkungan di Indonesia, khususnya di Sumatra Barat.
