Catatan Lokasi Radio, Surau, Rumah, yang Menjadi Basis penting PDRI
Judul Buku: Catatan Lokasi Radio, Surau, Rumah, yang Menjadi Basis penting PDRI
Penulis: Feni Efendi
Penata Letak: Feni Efendi
Desain Sampul: Feni Efendi
Diterbitkan oleh:
Penerbit Fahmi Karya
Anggota IKAPI No. 047/SBA/2024
Jl. Gunung Bungsu, Sumur Cindai, RT 01/RW02, Kel. Tiakar, Kec. Payakumbuh Timur, Kota Payakumbuh, Sumatera Barat 26231
Email: penerbitfahmikarya@gmail.com
Hp/WA: 081377856115/082384852758
Cetakan Pertama, Mei 2026
x + 111 hlm: 14,8 x 21 cm
Front Palatino, 1,15 Spasi, Size 11
SINOPSIS
Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) adalah mata rantai sejarah yang memastikan eksistensi Republik Indonesia tetap tegak di mata dunia saat ibu kota Yogyakarta jatuh dan para pemimpin nasional ditawan pada 19 Desember 1948. Buku ini hadir sebagai catatan perjalanan dan observasi lapangan untuk menelusuri kembali jejak-jejak fisik perjuangan tersebut yang tersebar di berbagai pelosok Sumatra Barat dan sekitarnya.
Penulisan buku ini didasari oleh keinginan untuk mendokumentasikan situs-situs sejarah yang mulai terlupakan, mulai dari rumah-rumah penduduk yang pernah menjadi markas darurat, surau-surau yang pernah menjadi tempat tinggal pejabat PDRI, lokasi pemancar radio yang mematahkan propaganda Belanda, hingga tempat-tempat terjadinya peristiwa heroik namun tragis. Melalui buku ini, pembaca akan diajak melintasi rute gerilya mulai dari: Bukittinggi dan Halaban: Titik awal evakuasi dan tempat resmi terbentuknya kabinet PDRI pada 22 Desember 1948. Bangkinang, Sungai Dareh, hingga Bidar Alam: Pusat pemerintahan darurat tempat Mr. Syafruddin Prawiranegara mengendalikan perjuangan selama berbulan-bulan di tengah hutan dan perbukitan. Sumpur Kudus dan merupakan lokasi musyawarah besar dan persembunyian radio perhubungan yang krusial bagi diplomasi internasional.
Koto Tinggi dan Padang Japang merupakan basis pertahanan terakhir dan tempat perundingan menentukan yang mengawali pengembalian mandat kekuasaan ke Yogyakarta. Buku ini tidak hanya berisi narasi teks, tetapi juga dilengkapi dengan dokumentasi foto terkini dan kesaksian para pelaku sejarah maupun keturunannya untuk memberikan gambaran nyata mengenai kondisi situs-situs tersebut saat ini. Sebagian besar lokasi ini merupakan saksi bisu betapa besarnya pengorbanan rakyat dalam melindungi para pemimpin negara. Semoga karya ini dapat menjadi pengingat bagi generasi muda bahwa kemerdekaan Indonesia tidak diraih di atas meja perundingan semata, melainkan melalui perjuangan berat "di dalam rimba" yang melibatkan ketulusan dan keberanian rakyat jelata.
