Meniti Takdir: Perjalanan Hidup Sang Penyuluh Agama Islam
Judul Buku : Meniti Takdir: Perjalanan Hidup Sang Penyuluh Agama Islam
Penulis : Eri Yuhadil, S.Sos.I
Penyunting : Feni Efendi
Penata Letak : Feni Efendi
Desain Cover : Feni Efendi
Diterbitkan oleh:
Penerbit Fahmi Karya
Jl. Gunung Bungsu, RT 01/RW 02, Sumur Cindai, Kelurahan Tiakar, Kecamatan Payakumbuh Timur, Kota Payakumbuh, Sumatera Barat 26231.
Email penerbitfahmikarya@gmail.com
Website www.penerbitfahmikarya.com
HP/WA 081377856115
Cetakan Pertama, Januari 2026
viii + 93 hlm: 13 x 19 cm
Front Palatino, 1,15 Spasi, Size 10
SINOPSIS
Tidak semua orang memilih jalan hidupnya sejak awal. Sebagian dari kita justru ditempa oleh keadaan, digiring oleh pengalaman, dan dibentuk oleh luka-luka kecil yang hadir tanpa diminta. Hidupku berjalan seperti itu. Aku tidak lahir dari kemewahan, tidak pula dibesarkan dengan segala kemudahan. Namun dari keterbatasan itulah aku belajar memahami makna ikhtiar, iman, dan pengabdian.
Aku tumbuh di tengah denyut pasar nagari, menyaksikan orang tua berjuang dengan keringat dan doa. Sejak kecil aku belajar bahwa hidup harus dijalani dengan kerja keras, kejujuran, dan kesabaran. Ada hari-hari ketika tubuh kecilku lelah, ada masa ketika hati ini ingin menyerah. Namun justru pada saat itulah aku mengenal satu kekuatan yang kelak menjadi penopang hidupku: doa. Doa yang lahir dari air mata, dari keheningan, dan dari keyakinan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.
Perjalanan hidup membawaku melewati banyak fase: masa kanak-kanak yang penuh tanggung jawab, pendidikan iman di surau dan didikan subuh, tempaan panjang di pesantren, hingga dunia akademik dan pengabdian. Semua fase itu bukan sekadar rentetan peristiwa, tetapi proses pembentukan jiwa. Aku belajar bahwa ilmu tanpa akhlak akan kehilangan arah, dan pengabdian tanpa keikhlasan hanya akan melelahkan.
Buku ini kutulis bukan untuk menampilkan kesempurnaan, melainkan untuk berbagi perjalanan. Ia adalah catatan jujur tentang proses menjadi, tentang jatuh dan bangkit, tentang belajar ikhlas di tengah keterbatasan. Harapanku sederhana: semoga kisah ini dapat menjadi penguat bagi siapa pun yang sedang berjuang, dan menjadi pengingat bahwa jalan pengabdian selalu dimulai dari hati yang bersedia ditempa.
Jika hidup adalah perjalanan dakwah, maka setiap langkah, luka, dan doa adalah bagian dari risalah itu sendiri. Dari sanalah kisah ini bermula. Saya persembahkan buku ini untuk istri dan anak-anak tercinta, orang tua, guru-guru, serta seluruh penyuluh agama dan pejuang pengabdian di mana pun berada. Semoga buku ini menjadi pengingat bahwa Allah tidak pernah tidur, dan waktu-Nya selalu tepat. Akhirnya, saya menyadari buku ini jauh dari sem-purna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat saya harapkan demi kebaikan bersama.
