Palasik Kuduang: Kepala Itu Tidak Akan Datang ke Rumah Orang yang Sudah Tahu Jalannya untuk Pulang

 


Judul Buku: Palasik Kuduang: Kepala Itu Tidak Akan Datang ke Rumah Orang yang Sudah Tahu Jalannya untuk Pulang

Penulis: Nova

Penata Letak: Feni Efendi

Desain Sampul: Feni Efendi

                       

 

Diterbitkan oleh:

Penerbit Fahmi Karya

Anggota IKAPI No. 047/SBA/2024                

Jl. Gunung Bungsu RT 01/RW 02, Sumur Cindai

Kelurahan Tiakar, Kota Payakumbuh, Sumatera Barat 26231

HP/WA: 081377856115

Email: penerbitfahmikarya@gmail.com

Website: www.penerbitfahmikarya.com 

 

Cetakan Pertama, September 2026

viii + 61 hlm: 13 x19 cm

Font Baskerville Old Face, 1,15 Spasi, Size 10,5

 

SINOPSIS

Masa kecil Siti seharusnya dipenuhi dengan kenangan manis bermain di bawah rindangnya pohon-pohon bambu di sebuah desa terpencil di Minangkabau. Namun, ketenangan itu mendadak runtuh ketika desas-desus mengerikan mulai berhem-bus di antara para tetangga tentang keberadaan palasik—siluman pencabut nyawa bayi yang konon berwujud manusia tanpa tubuh, dengan kepala yang bisa terbang bebas mencari mangsa.

Ketakutan kolektif yang semula hanya hidup dari mulut ke mulut di beranda rumah warga itu perlahan merayap masuk ke dalam realitas harian Siti. Suasana kampung yang damai beru-bah menjadi lanskap penuh kecurigaan, di mana setiap tatapan tetangga menyembunyikan tuduhan tak kasat mata terhadap keluarga yang dianggap menyimpan rahasia kelam.

Ketakutan itu akhirnya berubah menjadi mimpi buruk nyata tatkala Siti menyadari bahwa garis keturunan keluarganya menyimpan kutukan kelam yang selama ini disembunyikan rapat-rapat. Warisan leluhur yang mengerikan tersebut bukanlah sekadar cerita dongeng pengantar tidur, melainkan takdir darah yang mengancam kewarasannya.

Teror demi teror merenggut orang-orang terdekatnya satu per satu, menciptakan lingkaran keputusasaan yang semakin me-nyudutkannya. Situasi ini memaksanya untuk berpacu dengan waktu guna mengungkap rahasia gelap leluhur sebelum darahnya sendiri terpanggil untuk melanjutkan warisan iblis tersebut.

Di antara ikatan keluarga yang rumit, kukuhnya pagar tradisi, dan bayang-bayang kutukan masa lalu, Siti harus berjuang sekuat tenaga untuk memutus rantai kematian. Pilihan yang dihadapinya begitu berat: melawan takdir darahnya atau mere-lakan jiwanya dikuasai kegelapan abadi.

Melalui lembaran-lembaran kisah ini, pembaca diajak menyelami lorong-lorong gelap mitologi lokal yang berpadu dengan drama psikologis yang membetot emosi. Novel ini tidak hanya menyajikan kengerian fisik dari teror mistis, tetapi juga pergulatan batin seseorang yang menolak tunduk pada warisan kejahatan leluhurnya.

Sebuah perjalanan sunyi tentang keberanian menghadapi ketakutan terbesar dalam diri sendiri, bahwa kutukan paling menakutkan bukanlah apa yang datang dari luar, melainkan ika-tan darah yang gagal kita lepaskan dengan kesadaran dan nurani.

 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url