Alif Dapan An In Un: Dan Tinta yang Membunuh Dirinya dari Dalam

 


Judul Buku: Alif Dapan An In Un: Dan Tinta yang Membunuh Dirinya dari Dalam

Penulis: Nova

Penata Letak: Feni Efendi

Desain Sampul: Feni Efendi

                       

 

Diterbitkan oleh:

Penerbit Fahmi Karya

Anggota IKAPI No. 047/SBA/2024                

Jl. Gunung Bungsu RT 01/RW 02, Sumur Cindai

Kelurahan Tiakar, Kota Payakumbuh, Sumatera Barat 26231

HP/WA: 081377856115

Email: penerbitfahmikarya@gmail.com

Website: www.penerbitfahmikarya.com 

 

 

Cetakan Pertama, September 2026

viii + 81 hlm: 13 x19 cm

Font Baskerville Old Face, 1,15 Spasi, Size 10,5

 

SINOPSIS

Di ranah Minangkabau yang berselimut kabut tradisi, Aji, seorang pecinta budaya yang berdedikasi meluruskan dan men-sosialisasikan pemahaman tentang sumbang duo baleh dan etika leluhur, justru harus menghadapi kenyataan pahit. Draf pene-litiannya diinjak-injak dan ia diselimuti fitnah oleh masyarakat yang salah paham.

Puncak keputusasaan membawanya ke sebuah surau tua untuk membakar seluruh catatan perjalanan hidupnya, dan melupakan keinginan untuk menelusuri manuskrip kuno yang ada di Minangkabau. Namun, sebuah mimpi pertemuan dengan Tuanku Imam Bonjol yang menyerahkan kuda perjuangan serta isyarat naskah kuno membakar kembali abu semangatnya.

Membawa pesan leluhur bila tidak sekarang, kapan lagi, Aji melangkah keluar dari zona nyaman menuju lembah-lembah terpencil. Perjalanan penuh duri itu mempertemukannya dengan Datuk Nan Putiah, penjaga kunci adat terakhir. Di ambang batas waktu, di dalam gudang tua penyimpan ribuan lembaran aksara Jawi yang terancam punah oleh senyawa tinta alkimia kuno dari dalam dan tembok tebal dogmatisme kultural di luar, Aji berjuang menyelamatkan memori peradaban tersebut.

Lahir dari keresahan mendalam mengenai benturan antara pelestarian fisik yang kolot dan kebutuhan penyelamatan informasi di era modern, novel fiksi historis dan reflektif ini merajut dialog pentingnya literasi digital kultural.

Melalui lembaran-lembaran kisah ini, pembaca diajak merenungkan kembali bagaimana ingatan kolektif sebuah bangsa sering kali diuji oleh ketidaktahuan dan arus zaman yang bergerak cepat tanpa ampun.

Sebuah kisah penutup yang syahdu di serambi surau saat senja bahwa merawat peradaban bukanlah tentang mencari gemuruh tepuk tangan, melainkan menjaga agar pelita leluhur tidak padam dihembus angin zaman.

 

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url