Menanamkan Logika Minangkabau Di Bangku Kuliah
Judul Buku: Menanamkan Logika Minangkabau Di Bangku Kuliah
Tata Letak: Feni Efendi
Desain Sampul: Feni Efendi
Diterbitkan oleh:
Penerbit Fahmi Karya
Anggota IKAPI No. 047/SBA/2024
Jl. Gunung Bungsu RT 01/RW 02, Sumur Cindai
Kelurahan Tiakar, Kota Payakumbuh, Sumatera Barat 26231
HP/WA : 081377856115
Email : penerbitfahmikarya@gmail.com
Website : www.penerbitfahmikarya.com
Cetakan Pertama, Juli 2026
viii + 115 hlm: 15,5 x 23 cm
Front CAMRIA, 1,15 Spasi, Size 11
SINOPSIS
Saat ini, dunia pendidikan tinggi seringkali menganggap metode saintifik dan rasionalitas sebagai satu-satunya cara untuk menentukan kebenaran.
Tetapi bagi orang Minangkabau, kecerdasan merupakan kemam-puan untuk mensinergikan akal dengan budi dan mengintegrasikan logika dengan filosofi hidup. Pemikiran kritis tentang bagaimana nilai-nilai filosofis Minangkabau, yang terungkap dalam pepatah-petitih dan alam takambang menjadi guru, dapat relevan dan membumi di tengah dinamika akademis di perguruan tinggi, mengilhami pembentukan karya ini.
Menanamkan Logika Minangkabau di kelas bukanlah upaya untuk menentang kemajuan zaman atau menutup diri dari pengetahuan kontemporer. Sebaliknya, ini adalah upaya untuk memberikan akar yang kuat bagi mahasiswa. Dengan memahami logika Minangkabau, diharapkan mahasiswa tidak hanya menjadi orang yang cerdas secara intelektual, tetapi juga bijaksana, santun, dan mampu memecahkan masalah dengan berpikir secara menyeluruh.
Buku ini hadir sebagai jembatan konseptual untuk menepis anggapan bahwa kearifan lokal bersifat usang atau antipati terhadap modernitas. Struktur bahasan di dalamnya disusun sedemikian rupa untuk menunjukkan bahwa dialektika alua jo patuik (alur dan patut) dalam metode berpikir rasional Minangkabau memiliki derajat ketajaman yang setara dengan silogisme barat. Melalui pendekatan ini, ruang-ruang kelas di perguruan tinggi tidak lagi sekadar menjadi tempat transfer teori-teori global yang kering, melainkan laboratorium hidup tempat mahasiswa menguji realitas menggunakan pisau analisis yang bersumber dari rahim kebudayaannya sendiri.
Lebih jauh, integrasi nilai ini diharapkan mampu melahirkan ekosistem akademik yang lebih humanis. Di tengah arus digitalisasi yang menuntut kecepatan tanpa jeda, logika Minangkabau menawarkan kompas moral agar manusia tidak kehilangan kemanusiaannya. Mahasiswa diajak untuk tidak hanya mengejar kebenaran empiris-kuantitatif, tetapi juga menimbang dampak sosial dan etis dari setiap ilmu yang mereka serap, sejalan dengan prinsip kebenaran yang objektif namun tetap berpijak pada rasa keadilan bersama.
