Arsitektur Akal Rancang Bangun Karakter Cadiak Pandai dalam Estetika Rumah Gadang

 


Judul Buku: Arsitektur Akal Rancang Bangun Karakter Cadiak Pandai dalam Estetika Rumah Gadang

Penulis : Nova dan Prof. Dr. Nunu Burhanuddin, Lc., M.Ag

Tata Letak: Feni Efendi

Desain Sampul: Feni Efendi

                 

                 

 

Diterbitkan oleh:

Penerbit Fahmi Karya

Anggota IKAPI No. 047/SBA/2024        

Jl. Gunung Bungsu RT 01/RW 02, Sumur Cindai

Kelurahan Tiakar, Kota Payakumbuh, Sumatera Barat 26231

HP/WA     : 081377856115

Email         : penerbitfahmikarya@gmail.com

Website    : www.penerbitfahmikarya.com 

 

 

 

Cetakan Pertama, Juli 2026

viii + 65 hlm: 15,5 x 23 cm

Front CAMRIA, 1,15 Spasi, Size 11

 

SINOPSIS

Rumah Gadang bukan hanya sebuah susunan kayu ruyuang dan atap gonjong yang menjulang ke langit. Bagi masyarakat Minangkabau, Rumah Gadang ialah sebuah teks terbuka, kitab besar yang tertulis dalam bentuk ruang, ukiran, serta tata letak. Dalam setiap sudutnya, terkandung arsitektur akal yang menuntut penghuninya untuk tidak hanya menjadi cerdas secara intelektual, tetapi juga bijak dalam menempatkan diri sebagai Cadiak Pandai.

Karya ini lahir dari keresahan sekaligus kekaguman penulis melihat bagaimana leluhur kita telah merancang bangunan sebagai medium pendidikan karakter yang holistik. Di tengah derasnya arus modernisasi yang terkadang membuat kita tercerabut dari akar filosofis, tulisan ini mencoba menghadirkan kembali cara pandang bahwa estetika Rumah Gadang merupakan perangkat pendidikan yang mendalam. Menjadi Cadiak Pandai bukan hanya soal penguasaan ilmu pengetahuan, melainkan tentang bagaimana akal budi digunakan untuk menjaga keseimbangan alam dan sosial, sebagaimana tercermin dalam filosofi Alam Takambang Jadi Guru.

Melalui lembaran-lembaran dalam buku ini, pembaca akan diajak menelusuri bagaimana setiap jengkal arsitektur fisik Rumah Gadang sebenarnya beresonansi dengan arsitektur mental manusia Minang-kabau. Dari tiang-tiang penyangga yang elastis namun kokoh hingga ukiran yang menyiratkan kedalaman rasa, semuanya ditelaah bukan sekadar sebagai artefak masa lalu, melainkan sebagai media literasi karakter yang sangat dinamis. Penulis berupaya membedah bagaimana internalisasi nilai-nilai luhur ini dapat kita rekonstruksi kembali hari ini, menjembatani kearifan lokal yang adiluhung dengan tuntutan kompetensi global abad ke-21.

 

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url