Alih Aksara Naskah Kuno Istanbul: Doa Cahaya Seluruh Nabi, Datuk Maharajo Dirajo Koto Nan Gadang Payakumbuh

 


Judul Buku: Alih Aksara Naskah Kuno Istanbul: Doa Cahaya Seluruh Nabi, Datuk Maharajo Dirajo Koto Nan Gadang Payakumbuh

Penulis : Nova dan Dr. Hayati, SS., M.A

Tata Letak: Feni Efendi

Desain Sampul: Feni Efendi

                 

                 

 

Diterbitkan oleh:

Penerbit Fahmi Karya

Anggota IKAPI No. 047/SBA/2024        

Jl. Gunung Bungsu RT 01/RW 02, Sumur Cindai

Kelurahan Tiakar, Kota Payakumbuh, Sumatera Barat 26231

HP/WA     : 081377856115

Email         : penerbitfahmikarya@gmail.com

Website    : www.penerbitfahmikarya.com 

 

 

 

Cetakan Pertama, Juli 2026

x + 74 hlm: 15,5 x 23 cm

Front CAMRIA, 1,15 Spasi, Size 11

 

SINOPSIS

Naskah kuno pada hakikatnya merupakan jendela peradaban masa lampau yang merekam jejak pemikiran, falsafah hidup, serta kedalaman spritual masyarakat terdahulu agar tidak hilang ditelan zaman. Teks "Doa Cahaya Seluruh Nabi" yang bersumber dari peninggalan bersejarah Datuk Maharajo Dirajo ini bukan sekadar lembaran ritus keagamaan biasa, melainkan bukti autentik sintesis harmonis antara kedalaman nilai Islam (syarak) dengan kearifan lokal Minangkabau (adat). Harmonisasi ini berjalan beriringan dan sejalan secara mutlak dengan prinsip luhur filosofi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah yang menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat di Ranah Minang. Melalui naskah ini, kita dapat melihat bagaimana hubungan emosional dan keimanan yang kuat antara masyarakat Minangkabau dengan pusat Kekhalifahan Islam di Istanbul, Turki, terjalin erat melalui jalur ibadah haji dan perdagangan masa lampau.

         Dalam konteks modern saat ini, upaya alih aksara dari aksara asal berbentuk Arab-Melayu (Jawi) ke dalam aksara Latin menjadi sebuah langkah krusial yang memiliki urgensi akademis sangat tinggi. Tanpa adanya transliterasi yang sistematis dan pemosisian teks yang tepat, kandungan ilmu pengetahuan, rahasia spiritual, serta nilai-masing etis di dalam naskah kuno ini terancam terkunci di masa lalu. Hal tersebut akan membuat warisan berharga ini menjadi asing dan tidak terjamah bagi generasi muda hari ini maupun masa depan yang mulai kehilangan kemampuan membaca aksara Jawi. Oleh karena itu, penulisan filologi ini hadir sebagai jembatan yang menghubungkan pusaka intelektual masa lalu antara Istanbul dan Minangkabau dengan kebutuhan akademis serta penguatan identitas budaya kontemporer.

         Secara historis, Nagari Koto Nan Gadang yang terletak di tengah Kota Payakumbuh memiliki posisi yang sangat terhormat dalam struktur adat Luhak Lima Puluah dengan menerapkan prinsip bajanjang naiak, batanggo turun. Nagari ini tidak hanya berfungsi sebagai pusat pemerintahan adat dengan kemegahan Balai Gadang-nya, tetapi juga dikenal sebagai pusat kecerdasan dan pemikiran intelektual yang dibuktikan dengan keberadaan tulisan-tulisan kuno keagamaan di berbagai surau tradisional. Manuskrip "Doa Cahaya Seluruh Nabi" ini memiliki karakteristik fisik yang sangat unik dan spesifik, berbentuk sangat kecil di telapak tangan sebelum dibentangkan, namun memiliki panjang mencapai 1 meter dengan lebar 3 sentimeter yang ditulis tangan di atas media kulit lembu tebal berciri khas putih kecokelatan.

         Naskah kuno yang berharga ini awalnya dibawa dan dihadiahkan oleh seorang ulama terkemuka dari Istanbul bernama Syekh Abdullah kepada Datuk Rajo Maharajo Dirajo di Kampung Adat Balai Kaliki, Payakumbuh. Bersama dengan naskah tersebut, disertakan pula kelengkapan spiritual simbolis lainnya berupa sebuah cincin batu Tapak Jalak, sebuah guci kecil seukuran jari kelingking berisi batu Merah Delima, serta sembilan koin logam campuran perunggu dan emas yang terukir indah ayat suci Al-Qur'an, yakni surah Yasin ayat 1 dan 2. Berhubung pada masa itu Datuk Rajo Maharajo Dirajo belum memiliki keturunan laki-laki langsung untuk mewarisi jabatan, maka pusaka bersejarah beserta seluruh kelengkapannya dialihkan amanahnya secara temporer kepada Datuk Tumbi Manggiang yang kini berdomisili di Talawi, Payakumbuh. 

         Di masa lalu yang penuh dengan dinamika perjuangan kolonial, kekuatan doa yang bersumber dari ayat-ayat suci Al-Qur'an dalam manuskrip ini senantiasa dijadikan pedoman spiritual utama bagi seorang pemimpin adat untuk membersihkan hati serta melindungi diri dari marabahaya. Tradisi luhur membaca doa ini tetap dijaga keles-tariannya oleh keluarga besar ahli waris dengan membacakannya secara berkala setiap satu atau tiga bulan sekali sebagai benteng spiritual. Rangkaian ayat-ayat suci Al-Qur'an yang termaktub di dalam naskah ini meliputi lafaz Basmalah, surah Al-Fatihah, surah Al-Buruj, surah Al-Bayyinah, hingga ditutup dengan surah Al-Falaq, yang secara keselu-ruhan memancarkan energi spiritual luar biasa dan bahkan dilaporkan mampu memberikan pancaran cahaya nyata di sekitar lingkungan rumah gadang saat dikumandangkan secara khusyuk.

         Dalam membedah makna isi naskah, bagian awal dibuka dengan kedalaman makna Basmalah sebagai deklarasi ketergantungan mutlak makhluk (Al-Isti'anah) dan niat suci mencari keberkahan (Al-Barakah) dengan memadukan sifat kasih sayang Allah melalui Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Selanjutnya, surah Al-Fatihah hadir sebagai induk al-Qur'an (Ummul Kitab) yang merangkum pilar akidah dan ibadah, mengajarkan bahwa hanya kepada Allah sajalah tempat berserah diri dan memohon pertolongan. Keberadaan teks surah Yasin ayat 1 dan 2 pada koin pelengkap naskah juga menegaskan kedudukan luhur Nabi Muhammad SAW. sebagai utusan yang membawa risalah penuh hikmah, serta memberikan ketenangan jiwa dan keberkahan hidup bagi siapa saja yang istiqamah mengamalkannya.

         Naskah ini kemudian menguraikan pesan keteguhan iman yang sangat mendalam melalui untaian ayat-ayat dalam surah Al-Buruj yang mengisahkan perjuangan heroik kaum Ashabul Ukhdud. Mereka rela mengorbankan jiwa dan raga demi mempertahankan tauhid dari ancaman penguasa zalim yang membakar mereka hidup-hidup di dalam parit raksasa. Melalui surah ini, Allah memberikan peringatan tegas mengenai kepastian datangnya hari kiamat serta azab yang sangat pedih bagi para pelaku kezaliman, sekaligus menjamin kemurnian Al-Qur'an yang senantiasa terjaga di tempat tertinggi, yaitu Lauh Mahfuz, sehingga memberikan kekuatan mental bagi orang-orang beriman dalam menghadapi penindasan.

         Sementara itu, kandungan surah Al-Bayyinah yang berarti "Bukti yang Nyata" menegaskan kehadiran Rasulullah SAW dan Al-Qur'an sebagai pembebas manusia dari kesesatan moral menuju ajaran agama yang lurus dan bersih. Surah ini membagi derajat manusia menjadi dua golongan ekstrem, yakni Syarru-Bariyyah sebagai seburuk-buruk makhluk bagi mereka yang menutup mata dari kebenaran karena keegoan, serta Khairul-Bariyyah sebagai sebaik-baik makhluk bagi yang memadukan keimanan dengan amal saleh. Konsep ini membuktikan bahwa keselamatan hidup di dunia dan akhirat dapat dicapai secara sederhana melalui keikhlasan bertauhid, kedisiplinan menegakkan salat, serta kepedulian sosial melalui penunaian zakat.

         Pada bagian akhir pembacaan spiritual, surah Al-Falaq bertindak sebagai pilar perlindungan hakiki (Al-Mu'awwidzatain) bagi umat manusia dari segala macam bentuk kejahatan makhluk yang bersifat eksternal dan berada di luar kendali akal. Penyebutan Allah sebagai "Tuhan yang menguasai subuh" memberikan filosofi mendalam bahwa sebagaimana Allah mampu membelah kegelapan malam dengan fajar yang terang, Dia juga mampu menyingkirkan kejahatan sihir maupun kedengkian (hasad) manusia. Dengan memahami intisari seluruh surah pendek ini, pembaca diajak untuk menyadari hakikat kekuatan doa sebagai manifestasi energi tak terbatas yang menghubungkan bumi dengan langit demi meraih kemenangan lahir dan batin.

         Keberhasilan penyusunan, penyuntingan, dan alih aksara yang komprehensif ini tentu tidak dapat terwujud tanpa adanya dukungan, bimbingan, serta kerja sama yang harmonis dari berbagai pihak terkait. Oleh karena itu, penulis ingin menyampaikan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada keluarga besar Datuak Tumbi Manggiang selaku pemegang amanah naskah yang telah memberikan izin dan kepercayaan penuh kepada penulis untuk meneliti teks suci ini. Apresiasi yang tinggi juga penulis persembahkan kepada para akademisi, rekan peneliti, pakar filologi, serta seluruh pihak yang telah memberikan sumbangsih pemikiran dan bantuan moril maupun materil demi tegak-nya syiar keilmuan Islam dan pelestarian budaya Minangkabau ini.

 

 

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url