Paradoks Meritokrasi Perbankan: Ketika Standar Kerja Menekan Turnover, tetapi Perilaku Profesional Memicu Keinginan Keluar
Judul Buku: Paradoks Meritokrasi Perbankan: Ketika Standar Kerja Menekan Turnover, tetapi Perilaku Profesional Memicu Keinginan Keluar
Penulis: Dina Kristina Nababan, Riyadi Hotnitua Nababan, S.St, Denis Anisa, Silvi Rosyanti,
Bob Nehemia Oloan Pangihutan Sibuea
Editor: Recky , S.E., M.M., CHRM
Tata Letak: Denis Anisa dan Silvi Rosyanti
Desain Sampul: Bob Nehemia Oloan Pangihutan Sibuea
Diterbitkan oleh:
Penerbit Fahmi Karya
Anggota IKAPI No. 047/SBA/2024
Jl. Gunung Bungsu RT 01/RW 02, Sumur Cindai
Kelurahan Tiakar, Kota Payakumbuh, Sumatera Barat 26231
HP/WA : 081377856115
Email : penerbitfahmikarya@gmail.com
Website : www.penerbitfahmikarya.com
Cetakan Pertama, Juni 2026
x + 132 hlm: 15,5 x 23 cm
Front CAMRIA, 1,15 Spasi, Size 11
SINOPSIS
Buku ini lahir dari sebuah refleksi mendalam mengenai dinamika pengelolaan modal manusia di industri keuangan modern, sebuah sektor yang tidak hanya menuntut kepatuhan regulasi yang ketat (highly regulated), tetapi juga pengelolaan risiko yang nyaris tanpa toleransi kesalahan (zero error). Melalui karya ini, penulis berusaha mengurai benang kusut yang sering kali menjadi dilema tersembunyi di balik meja kerja para bankir profesional.
Lanskap perbankan kontemporer saat ini tengah berada dalam pusaran disrupsi ekonomi dan transformasi digital yang masif. Di satu sisi, institusi perbankan dituntut untuk terus memacu produktivitas harian dan mencapai target-target finansial yang agresif demi mempertahankan keunggulan kompetitif di pasar. Di sisi lain, pemenuhan target tersebut sangat bergantung pada bagaimana organisasi mampu merumuskan standar kerja yang jelas, adil, dan transparan. Standar kerja yang objektif terbukti menjadi jangkar yang memberikan rasa aman psikologis (psychological safety) bagi pegawai, yang dalam banyak kajian ilmiah terbukti efektif menekan intensitas mereka untuk meninggalkan perusahaan (turnover intention). Namun, sebuah fenomena kontradiktif muncul ke permukaan dan menjadi inti pembahasan utama dalam buku ini, yakni hadirnya "Paradoks Meritokrasi". Ketika sebuah bank berhasil mencetak dan menuntut perilaku kerja yang sangat profesional—yang diukur melalui akuntabilitas tugas, disiplin manajemen waktu, orientasi kualitas, integritas, dan kolaborasi interpersonal yang unggul—organisasi tersebut sebenarnya sedang meningkatkan nilai jual profesional (market value) pegawai mereka di pasar eksternal. Ironisnya, apabila perilaku profesional yang tinggi ini tidak diimbangi dengan budaya organisasi yang suportif, sistem promosi jabatan yang adil, serta apresiasi yang sepadan, maka individu-individu terbaik ini justru menjadi kelompok yang paling rentan untuk mencari peluang karier di institusi pesaing.
Buku ini secara khusus menyoroti hulu dari munculnya resistensi batin pegawai, yang kerap kali dipicu oleh ketimpangan dalam sistem promosi jabatan. Ketika prinsip meritokrasi dikesampingkan dan keputusan suksesi dinilai lebih berpihak pada pertimbangan non-profesional, standar kerja yang telah disusun dengan matang akan kehilangan legitimasinya di mata pegawai senior maupun staf potensial. Dampak domino dari runtuhnya keadilan organisasi ini tidak hanya memicu fenomena ketidakhadiran (absenteeism) atau penarikan diri secara mental (quiet quitting), melainkan juga bermuara pada eksodus talenta berkinerja tinggi yang membawa serta memori institusional dan portofolio nasabah inti mereka.
