Balai Bahasa Sumbar Verifikasi Korpus Bahasa di Payakumbuh dan Lima Puluh Kota


PAYAKUMBUH, — Balai Bahasa Provinsi Sumatera Barat melalui Tim Kerja Pemodernan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra melakukan identifikasi serta verifikasi data pengembangan korpus bahasa daerah di Kota Payakumbuh dan Kabupaten Lima Puluh Kota. Langkah ini krusial dilakukan sebagai upaya inventarisasi, digitalisasi, dan penyelamatan bahasa lokal agar tetap adaptif di tengah derasnya arus zaman.

Tim verifikasi yang beranggotakan Fitria Dewi, Arriyanti, Eva Himyati, dan Krisnawati mengawali pengumpulan data dengan mendatangi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Payakumbuh. Penelusuran literatur dan naskah kuno menjadi salah satu fokus utama dalam memperkaya bank data (korpus) bahasa daerah di ranah Minang.

Sekretaris Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Payakumbuh Fatmawati, saat mendampingi tim di ruang referensi perpustakaan menyatakan, pihaknya mendukung penuh kerja literasi tersebut. Akses terhadap dokumen, arsip, maupun buku-buku referensi lokal dibuka seluas-luasnya untuk mempermudah kerja tim balai bahasa.

"Kami berupaya membantu semaksimal mungkin dalam menyediakan dokumen atau buku yang dibutuhkan. Kolaborasi ini penting agar kekayaan tutur dan tulisan masa lalu dapat terdokumentasi dengan baik," kata Fatmawati.

Kondisi ruang referensi yang representatif serta koleksi buku yang melimpah dinilai sangat menunjang kerja tim lapangan dalam memilah data korpus yang valid.

Selain mengumpulkan dokumen formal dari perpustakaan daerah, tim juga menjajaki pendekatan kultural dengan menggandeng komunitas dan pegiat literasi lokal. Langkah ini diambil untuk menangkap dinamika bahasa yang hidup di tengah masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, tim berdiskusi dengan Feni Efendi, seorang penulis memori kolektif sekaligus pendiri Penerbit Pajacombo Tanah Payau. Kehadiran penulis dan penerbit lokal dinilai strategis karena mereka memegang peranan penting dalam memproduksi teks-teks berbahasa daerah kontemporer.

Feni menyambut baik upaya jemput bola yang dilakukan Balai Bahasa Provinsi Sumatera Barat. Menurut dia, sinergi antara lembaga pemerintah dan komunitas kebudayaan di daerah harus terus dirawat. "Semoga ke depan saya bisa memberikan kontribusi yang lebih nyata dalam pelindungan bahasa dan sastra daerah," ujarnya.

Pengembangan korpus bahasa daerah ini nantinya tidak hanya berfungsi sebagai basis data kebahasaan, tetapi juga menjadi fondasi penting bagi kebijakan pelindungan bahasa, penyusunan kamus, hingga penyediaan bahan ajar berbasis kearifan lokal di Sumatera Barat.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url