CEO Qowwamah: Seni Memimpin Keluarga
Judul Buku: CEO Qowwamah: Seni Memimpin Keluarga
Penulis: Abu Alfi Elmuttaqy, S.Ag, MM
Editor: Nurhayani Umm Safna, S.Pd, M.Pd
Penata Letak: Feni Efendi
Desain Sampul: Team Kreatif Huffazmedia
Diterbitkan oleh:
Penerbit Fahmi Karya
Anggota IKAPI No. 047/SBA/2024
Jl. Gunung Bungsu, Sumur Cindai, RT 01/RW02, Kel. Tiakar, Kec. Payakumbuh Timur, Kota Payakumbuh, Sumatera Barat 26231
Email: penerbitfahmikarya@gmail.com
Website: www.penerbitfahmikarya.com
Hp/WA: 081377856115
Cetakan Pertama, Februari 2026
x + 78 hlm: 14,8 x 21 cm
Font Book Antiqua, 1,15 Spasi, Size 11
SINOPSIS
Menjadi suami di masa kini bukanlah perkara sederhana. Di satu sisi, tuntutan hidup semakin kompleks—baik dalam aspek eko-nomi, pekerjaan, maupun tanggung jawab sosial. Di sisi lain, keluarga tetap menantikan kehadiran seorang pemimpin yang tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga hadir secara emosional, moral, dan spiritual. Kehadiran yang mampu memberi arah, ke-tenangan, dan rasa aman bagi seluruh anggota keluarga.
Buku ini lahir dari sebuah kesadaran mendasar bah-wa rumah tangga merupakan organisasi kehidupan paling pen-ting dalam diri seorang laki-laki. Di sanalah nilai ditanamkan, karakter dibentuk, dan orientasi hidup diarahkan. Namun dalam realitasnya, tidak sedikit laki-laki yang mempersiapkan diri de-ngan serius untuk memimpin di ruang publik—di kantor, organi-sasi, atau komunitas—namun kurang memiliki kesiapan yang memadai ketika harus memimpin di dalam rumahnya sendiri. Kondisi tersebut sering kali melahirkan kelelahan, kebingungan peran, bahkan konflik yang berulang. Bukan karena kurangnya niat baik, melainkan karena ketiadaan kerangka kepemimpinan keluarga yang utuh dan disadari.
Istilah CEO Qowwamah dalam buku ini digunakan sebagai metafora konseptual untuk memudahkan pemahaman tentang peran kepemimpinan suami. CEO bukanlah simbol jabatan atau kekuasaan, melainkan sosok yang memikul tanggung jawab ter-tinggi atas arah, keberlangsungan, dan kesehatan organisasi yang dipimpinnya. Dalam konteks keluarga, peran tersebut melekat pada suami sebagai pemimpin rumah tangga. Namun berbeda dengan organisasi pada umumnya, keluarga tidak hanya diba-ngun dengan sistem dan target, melainkan dengan nilai, rasa, dan amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Swt.
