Jatuh Bangun dalam Krisis: Konseling untuk Mencari Kembali Arah


 

Judul Buku: Jatuh Bangun dalam Krisis: Konseling untuk Mencari Kembali Arah

Penulis: Siska Mardes, S.Pd., M.Pd.,Kons dan Dwi Rahmadani Indra, S.Psi., M.Psi.,Psikolog

Editor: Siska Mardes, S.Pd., M.Pd.,Kons

Tata Letak: Addini Rahayu Aldra dan Arrisqa Vrisya

Desain Sampul: Siti Azqia Zahra dan Vicka Ananda Maulydia

                       

                       

 

Diterbitkan oleh:

Penerbit Fahmi Karya

Anggota IKAPI No. 047/SBA/2024       

Jl. Gunung Bungsu RT 01/RW 02, Sumur Cindai

Kelurahan Tiakar, Kota Payakumbuh, Sumatera Barat 26231

HP/WA      : 081377856115

Email           : penerbitfahmikarya@gmail.com

Website     : www.fahmikarya.com 

 

 

ISBN 978-634-7315-47-2

Cetakan Pertama, Desember 2025

viii + 91 hlm: 15,5 x 23 cm

Front CAMRIA, 1,15 Spasi, Size 11

 

SINOPSIS

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, sehingga buku berjudul Jatuh Bangun Dalam Krisis: Konseling untuk Mencari Kembali Arah dapat terselesaikan. Di mana saat kita menapaki perjalanan hidup, kita pasti akan menemui titik-titik di mana fondasi yang selama ini kita yakini terasa goyah, bahkan runtuh. Krisis—baik itu krisis eksistensial, krisis hubungan, krisis karier, maupun krisis emosional—adalah pengalaman universal yang dapat membuat kita merasa tersesat, kehilangan kendali, dan putus asa. Namun, di balik rasa sakit dan kekacauan tersebut, krisis menyimpan potensi yang luar biasa: ia adalah momen ketika kita dipaksa untuk berhenti sejenak, mengevaluasi kembali, dan yang terpenting, mencari kembali arah yang otentik dan bermakna.

        Buku Jatuh Bangun dalam Krisis hadir sebagai sahabat dan pemandu bagi Anda yang tengah berada di persimpangan jalan atau merasa terperangkap dalam labirin kesulitan. Penulis percaya bahwa krisis bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebuah undangan untuk bertumbuh dan bertransformasi. Melalui lensa bimbingan dan konseling, buku ini mengajak pembaca untuk tidak hanya bertahan dari badai, tetapi juga memanfaatkan kekuatan krisis sebagai katalis untuk penemuan diri yang lebih dalam dan pembangunan ulang kehidupan yang lebih kokoh.

        Dalam halaman-halaman berikutnya, penulis akan mengupas tuntas mengapa krisis terjadi, bagaimana cara mengenali pola-pola pikir dan emosi yang menghambat, serta teknik-teknik praktis untuk mengelola kecemasan dan keputusasaan yang menyertai masa sulit. Pendekatan yang digunakan dalam buku ini memadukan teori-teori konseling klasik dan modern, menjadikannya sumber yang komprehensif sekaligus mudah dipahami dan diterapkan dalam konteks kehidupan sehari-hari. Salah satu fokus utama buku ini adalah membantu pembaca menyadari bahwa pembaca tidak sendirian. Pengalaman jatuh bangun adalah bagian dari sifat manusia, dan mencari bantuan profesional adalah tindakan keberanian, bukan kelemahan. Konseling menyediakan ruang aman, non-penghakiman, dan suportif di mana pembaca dapat dengan bebas mengeksplorasi masalah terdalam, memproses trauma, dan mengembangkan keterampilan coping yang adaptif. Buku ini bertujuan untuk menjembatani jurang antara pengetahuan akademis dan penerapan praktis dalam kehidupan nyata.

       Penulis juga menekankan pentingnya peran konselor yang terampil dan berempati. Bagi para calon dan praktisi konseling, buku ini menawarkan wawasan mendalam mengenai dinamika hubungan konseling dalam konteks krisis. Penulis membahas etika praktik, pentingnya kepekaan budaya, dan cara efektif untuk memfasilitasi klien dalam menemukan narasi baru tentang diri mereka sendiri, yang tidak lagi didominasi oleh pengalaman krisis, melainkan oleh kekuatan dan resiliensi yang baru ditemukan.

         Tentu saja, perjalanan menuju pemulihan dan penemuan arah membutuhkan waktu, kesabaran, dan komitmen. Buku ini bukanlah solusi instan, melainkan peta jalan yang dirancang untuk memberdayakan pembaca—baik sebagai individu yang mencari bantuan maupun sebagai profesional yang menyediakannya. Penulis berharap, setelah membaca dan merenungkan isinya, pembaca akan merasa lebih siap untuk menghadapi ketidakpastian, lebih mampu mengambil tanggung jawab atas kesejahteraan emosional, dan lebih terinspirasi untuk hidup dengan tujuan yang jelas.

 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url