Metodologi Historis dalam Pendidikan Islam: Dari Masa Nabi hingga Dinasti Umayyah

 


Judul Buku: Metodologi Historis dalam Pendidikan Islam: Dari Masa Nabi hingga Dinasti Umayyah

Penulis: Yen Happy Rahmi, S.Pd., Adi Hidayat, S.Pd.I., Muhammad Zadri, S.Pd.I, Gr.,

Zulvia Rahmi, S.Pd.I., Dr. Mustafa, M.Pd.I

Editor: Dr. Mustafa, M.Pd.I

Tata Letak: Adi Hidayat, S.Pd.I

Desain Sampul: Muhammad Zadri, S.Pd.I, Gr

                 

Diterbitkan oleh:

Penerbit Fahmi Karya

Anggota IKAPI No. 047/SBA/2024        

Jl. Gunung Bungsu RT 01/RW 02, Sumur Cindai

Kelurahan Tiakar, Kota Payakumbuh, Sumatera Barat 26231

HP/WA     : 081377856115

Email         : penerbitfahmikarya@gmail.com

Website    : www.penerbitfahmikarya.com 

 

 

ISBN

Cetakan Pertama, Desember 2025

viii + 92 hlm: 15,5 x 23 cm

Front CAMRIA, 1,15 Spasi, Size 11


SINOPSIS

Karya tulis ini membahas metodologi historis dalam pendidikan Islam, mulai dari lembaga pendidikan, strategi pembelajaran, hingga perkembangan kurikulum pada masa Nabi Muhammad SAW, para sahabat, serta Khulafaur Rasyidin dan Dinasti Umayyah. Penelitian ini juga mengkaji sumber primer seperti naskah kuno, manuskrip, dan arsip pendidikan, serta implikasinya terhadap praktik pendidikan Islam kontemporer.

Pendidikan Islam bukan sekadar proses transfer pengetahuan, melainkan pewarisan nilai dan pembentukan karakter (character building) yang memiliki akar sejarah yang kuat. Memahami pendidikan Islam membutuhkan pendekatan metodologi historis yang ketat—sebuah upaya rekonstruksi masa lalu melalui pelacakan "sanad" keilmuan, institusi, dan kurikulum.

Penelusuran metodologi historis dari Dar al-Arqam hingga istana Umayyah menunjukkan bahwa pendidikan Islam memiliki sifat dinamis-adaptif. Ia bermula dari pembinaan akidah yang murni, berkembang menjadi sistem literasi publik, dan akhirnya menjadi spesialisasi keilmuan yang kompleks.

Kajian terhadap naskah dan arsip lama mengajarkan kita bahwa kemajuan pendidikan Islam tidak dicapai dengan meninggalkan tradisi, melainkan dengan mengembangkan tradisi tersebut (inovasi) agar relevan dengan tantangan zaman tanpa kehilangan akar spiritualnya. 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url