Selembar Cerita, Seribu Makna di Tanah Marambuang
Judul Buku: Selembar Cerita, Seribu Makna di Tanah Marambuang
Penulis: Fauzi Eka Putra, M.I.Kom, Arini Nazhifah, Haditya Salman Hafizh, Naila Puspita, Nurul Ilma, Syamsul Ma’arif, Yunia Khaira, Dimaz Agni Amrullah, Mar’atus Soleha, Puti Deqa Annisa G, Nadia Pratiwi
Desain Sampul: Nurul Ilma
Diterbitkan oleh:
Penerbit Fahmi Karya
Anggota IKAPI No. 047/SBA/2024
Jl. Gunung Bungsu RT 01/RW 02, Sumur Cindai
Kelurahan Tiakar, Kota Payakumbuh, Sumatera Barat 26231
HP/WA : 081377856115
Email : penerbitfahmikarya@gmail.com
Website : www.penerbitfahmikarya.com
QRCBN 62-1057-6965-329
Cetakan Pertama, Oktober 2025
x + 130 hlm: 15,5 x 23 cm
Front CAMRIA, 1,15 Spasi, Size 11
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya, sehingga buku sederhana ini dapat rampung sebagai perwujudan nyata dari pengabdian kami. Selembar Cerita, Seribu Makna di Tanah Marambuang adalah cerminan perjalanan kami, tim Kuliah Kerja Nyata (KKN), yang berkesempatan menjejakkan kaki di Jorong Marambuang, Nagari Baringin, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam. Ini adalah sebuah catatan hati, sebuah kompilasi pengalaman yang tak ternilai harganya selama kami tinggal dan bekerja bersama masyarakat.
KKN bukan sekadar tugas akademik; ia adalah momentum krusial untuk mengaplikasikan ilmu yang telah kami peroleh di bangku kuliah, sekaligus wadah untuk belajar langsung dari sekolah kehidupan. Selama kurang lebih sebulan lebih di Tanah Marambuang, kami menyadari bahwa teori terbaik pun akan hampa tanpa sentuhan realitas. Masya-rakat Marambuang telah mengajari kami arti ketulusan, gotong royong, dan kearifan lokal yang sesungguhnya. Mereka bukan hanya objek pengabdian, melainkan guru utama kami.
Jorong Marambuang, dengan segala keindahan alam dan kekayaan tradisinya, menyambut kami dengan hangat. Kami berusaha untuk berintegrasi dan melaksanakan program kerja yang tidak hanya bersifat temporer, tetapi juga berkelanjutan dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Mulai dari program edukasi sosial, digitalisasi administrasi nagari, hingga pendampingan UMKM, setiap langkah yang kami ambil selalu didasari oleh diskusi mendalam dan penghormatan terhadap nilai-nilai adat yang mengakar kuat.
Tentu, perjalanan ini tidak lepas dari tantangan. Perbedaan latar belakang, kendala komunikasi, hingga adaptasi dengan lingkungan baru menjadi ujian yang harus kami hadapi. Namun, dari setiap kesulitan, muncul pembelajaran yang jauh lebih berharga. Tantangan-tantangan ini justru memperkuat solidaritas tim kami dan mempererat ikatan emosional dengan ninik mamak, tokoh masyarakat, pemuda, serta anak-anak di Marambuang. Kami belajar tentang fleksibilitas, kesabaran, dan pentingnya mendengarkan—sebuah keterampilan yang akan berguna seumur hidup.
Kesempatan ini tidak mungkin terwujud tanpa dukungan berbagai pihak. Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Rektor, Dekan, dan Ketua LPPM, serta Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) atas bimbingan dan arahan yang tak henti. Terkhusus, rasa terima kasih yang paling tulus kami sampaikan kepada seluruh masyarakat Jorong Marambuang, Wali Nagari Baringin, dan perangkat Nagari lainnya, atas penerimaan, kerja sama, dan kenangan indah yang telah diukir bersama.
Buku Selembar Cerita, Seribu Makna di Tanah Marambuang ini hadir sebagai monumen persahabatan, sebagai rekam jejak perjuangan, dan sebagai pertanggungjawaban kami. Kami berharap, kisah-kisah di dalamnya dapat menjadi inspirasi bagi pembaca, khususnya adik-adik mahasiswa yang akan menjalani KKN, untuk melihat pengabdian bukan hanya sebagai kewajiban, tetapi sebagai sebuah kehormatan. Semoga apa yang telah kami tanam di sana dapat terus tumbuh dan memberikan manfaat nyata bagi kemajuan Jorong Marambuang.
Akhir kata, kami menyadari bahwa buku ini masih jauh dari kata sempurna. Saran dan kritik konstruktif senantiasa kami nantikan demi perbaikan di masa mendatang. Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa melimpahkan rahmat dan berkah-Nya kepada kita semua. Selamat menyelami seribu makna dari setiap lembar cerita yang kami bawa pulang dari Tanah Marambuang.
Bukittinggi, 04 Agustus 2025
.png)