Cerita Kecil dari Desa Kayu Pasak

 




Judul Buku: Cerita Kecil dari Desa Kayu Pasak

Penulis: M. Zubir M.A., Habib Alfajri, Salma Putri, Setri Yulka Warni, Latifatul Rahmah, Yogi Saputra, Nur Ayza Syafitri, Muhammad Reski, Hanifah Zahara, Wahyu Mita Sista, Desvira Fitri Sari, Alisya Ayu Maydani Hsb

Editor : M. Zubir M.A.

Tata Letak: Habib Alfajri

Desain Sampul: Salma Putri

                 

                 

 

Diterbitkan oleh:

Penerbit Fahmi Karya

Anggota IKAPI No. 047/SBA/2024        

Jl. Gunung Bungsu RT 01/RW 02, Sumur Cindai

Kelurahan Tiakar, Kota Payakumbuh, Sumatera Barat 26231

HP/WA     : 081377856115

Email         : penerbitfahmikarya@gmail.com

Website    : www.penerbitfahmikarya.com 

 

 

QRCBN 62-1057-2808-149

Cetakan Pertama, Juli 2025

x + 136 hlm: 15,5 x 23 cm

Front CAMRIA, 1,15 Spasi, Size 11

 

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya, sehingga buku ini dapat tersusun dan hadir di hadapan pembaca. Cerita Kecil dari Desa Kayu Pasak adalah sebuah karya yang lahir dari pengalaman nyata dan dedikasi yang mendalam. Buku ini bukanlah sekadar rangkaian kata, melainkan sebuah rekaman perjalanan, potret kehidupan, serta cerminan dari pengabdian yang tulus. Kami berharap, setiap halaman yang disajikan dapat menjadi jendela bagi pembaca untuk melihat betapa kaya dan berharganya kehidupan di nagari, khususnya di Salareh Aia.

       Buku ini bermula dari sebuah ide sederhana: mendokumentasikan setiap momen, tantangan, dan kebahagiaan selama kami mengabdi. Kami menyadari bahwa setiap jejak yang kami tinggalkan, sekecil apa pun, memiliki makna besar. Kata "kayu pasak" dalam judul buku ini bukanlah tanpa arti. Ia melambangkan kekuatan, keteguhan, dan fondasi yang kokoh. Demikianlah kami memandang pengabdian ini, sebagai pasak yang ditancapkan untuk menguatkan sendi-sendi kehidupan masyarakat. Melalui buku ini, kami ingin membagikan kisah-kisah inspiratif, keberanian, dan semangat gotong royong yang kami saksikan secara langsung.

       Nagari Salareh Aia, sebuah wilayah yang sarat akan kearifan lokal dan keindahan alam, menjadi latar belakang utama dari seluruh cerita yang tertuang. Di sinilah kami menemukan makna sejati dari pengab-dian. Masyarakatnya yang hangat, adat istiadatnya yang kuat, dan tantangan yang beragam, semuanya membentuk karakter kami dan memperkaya pengalaman kami. Kami tidak hanya datang untuk mengajar atau membantu, melainkan juga untuk belajar. Belajar tentang kesederhanaan, keuletan, dan kebersamaan yang mungkin jarang kita temui di tengah hiruk pikuk perkotaan.

        Setiap bab dalam buku ini adalah sebuah cerita yang memiliki jiwanya sendiri. Ada kisah tentang perjuangan anak-anak meraih pendidikan, cerita tentang para petani yang gigih mempertahankan tra-disi, dan kisah-kisah kecil lainnya yang menghangatkan hati. Melalui tulisan ini, kami mencoba merangkai mozaik kehidupan di Salareh Aia. Kami berharap pembaca dapat merasakan emosi yang sama, terinspirasi oleh semangat yang ada, dan memahami betapa pentingnya peran setiap individu dalam membangun sebuah komunitas.

        Proses penulisan buku ini tentu tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Kami mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada seluruh masyarakat Nagari Salareh Aia yang telah menerima kami dengan tangan terbuka, berbagi cerita, dan menjadi bagian dari setiap momen yang kami abadikan. Tanpa kalian, buku ini hanyalah sebuah angan-angan. Terima kasih juga kepada semua pihak yang telah mendukung, memberikan masukan, dan motivasi, sehingga karya ini bisa terselesaikan.

         Kami menyadari bahwa buku ini jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan demi perbaikan di masa yang akan datang. Semoga buku Cerita Kecil dari Desa Kayu Pasak ini dapat memberikan manfaat, menginspirasi, dan menumbuhkan rasa cinta kita pada tanah air dan kearifan lokal yang ada di dalamnya. Selamat membaca, dan selamat menyelami setiap jejak langkah yang kami tinggalkan. Semoga kisah ini menjadi pengingat bahwa pengabdian tulus akan selalu memiliki makna abadi.

 

 

Bukittinggi, 13 Agustus 2025

 

 

Penulis

 

 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url