Pupuik Terakhir di Lembah Anai: Cinta Mendalam Untuknya dan Dia yang Tidak Memberi Jawaban
Judul Buku: Pupuik Terakhir di Lembah Anai: Cinta Mendalam Untuknya dan Dia yang Tidak Memberi Jawaban
Penulis: Nova
Penata Letak: Feni Efendi
Desain Sampul: Feni Efendi
Diterbitkan oleh:
Penerbit Fahmi Karya
Anggota IKAPI No. 047/SBA/2024
Jl. Gunung Bungsu RT 01/RW 02, Sumur Cindai
Kelurahan Tiakar, Kota Payakumbuh, Sumatera Barat 26231
HP/WA: 081377856115
Email: penerbitfahmikarya@gmail.com
Website: www.penerbitfahmikarya.com
Cetakan Pertama, September 2026
viii + 120 hlm: 13 x19 cm
Font Baskerville Old Face, 1,15 Spasi, Size 10,5
SINOPSIS
Novel PUPUIK TERAKHIR DI LEMBAH ANAI membawa kita menelusuri lorong waktu melalui denyut nadi Mak Itam, lokomotif uap legendaris yang menjadi saksi bisu dari peluh para pekerja tambang batu bara di Sawahlunto. Suara mesin tua ini bukan sekadar deru mekanis, melainkan ratapan dan kidung kejayaan zaman yang hampir tenggelam ditelan modernitas. Melalui tokoh Kandar, seorang masinis muda yang mengemban tugas mulia menghidupkan kembali jalur kereta api wisata, pembaca diajak merenungkan betapa rapuhnya ingatan kolektif kita terhadap warisan leluhur.
Namun, tugas Kandar bukan sekadar proyek teknis atau pemenuhan mandat kedinasan belaka. Di balik deru mesin uap tersebut, terselip sebuah janji suci yang diwariskan oleh Sang Angku, seorang mantan masinis dari era kolonial yang hidupnya telah menyatu dengan rel-rel besi bergerigi. Janji itu adalah sumpah kesetiaan seorang anak negeri untuk merawat memori, memastikan bahwa deru Mak Itam tidak berhenti menjadi gema kosong di tengah kabut tebal yang menyelimuti lembah.
Di tengah perjalanan batin menghidupkan kembali sejarah itu, takdir mempertemukan Kandar dengan Upiak. Wanita lokal ini berdiri tegar di garis depan, berjuang mempertahankan tanah keluarganya dari ancaman alih fungsi lahan stasiun yang kian mendesak. Kehadiran Upiak memberikan warna yang kontras sekaligus harmonis dalam narasi ini, mempertemukan idealisme seorang pemuda pelestari sejarah dengan realitas pahit masyarakat lokal yang terhimpit oleh kepentingan zaman.
Kandar bukanlah masinis biasa; ia adalah seorang pencinta kata yang kerap merangkai puisi di sela-sela dentang besi dan desau angin lembah. Setiap jengkal perjalanan, setiap kepulan uap putih Mak Itam, diterjemahkannya menjadi bait-bait sajak penuh perenungan. Bahkan, ketika ia mencoba merayu Upiak agar bersedia menjadi "rumah" bagi hatinya yang lelah, sajak-sajak cinta itu harus membentur tembok dingin berupa sikap hambar dari sang wanita.
Di sinilah letak keindahan emosional dari novel ini, di mana kisah cinta tidak selalu berjalan di atas rel yang lurus dan mulus. Ada ruang-ruang sunyi, tanya yang tak berbalas, serta ketulusan perasaan yang menggantung di udara lembah yang basah. Cinta Kandar kepada Upiak berjalan seiring dengan cintanya kepada sejarah, di mana keduanya sama-sama menuntut pengorbanan besar tanpa jaminan akan berbuah manis.
Menjelang akhir kisah, ketegangan mencapai puncaknya ketika keputusan birokrasi dan politik mengancam untuk membungkam selamanya bunyi pupuik—peluit khas lokomotif uap—dari Mak Itam. Kandar dihadapkan pada persimpangan jalan yang menentukan: membiarkan sejarah lenyap dalam kebisuan, atau mempertaruhkan segalanya demi memastikan tiupan peluit terakhir itu bukan akhir, melainkan awal dari fajar harapan baru.
.png)