Muhasabah untuk Generasi yang Pandai Berbicara, tetapi Lupa Menghormati

 


Judul: Muhasabah untuk Generasi yang Pandai Berbicara, tetapi Lupa Menghormati

Penulis: Fajar Illahi, S.Ag

Tata Letak: Feni Efendi

Desain Sampul: Feni Efendi

                 

                 

 

Diterbitkan oleh:

Penerbit Fahmi Karya

Anggota IKAPI No. 047/SBA/2024        

Jl. Gunung Bungsu RT 01/RW 02, Sumur Cindai

Kelurahan Tiakar, Kota Payakumbuh, Sumatera Barat 26231

HP/WA: 081377856115

Email: penerbitfahmikarya@gmail.com

Website: www.penerbitfahmikarya.com 

 

 

Cetakan Pertama, Juni 2026

viii + 120 hlm: 15,5 x 23 cm

Front CAMRIA, 1,15 Spasi, Size 11

 

SINOPSIS

Kehadiran karya ini merupakan sebuah perenungan mendalam terhadap realitas sosial yang berkembang pesat di era modern. Melalui untaian pemikiran dalam buku ini, penulis berusaha mengajak pembaca, khususnya generasi muda, untuk sejenak berhenti dari hiruk-pikuk dunia digital dan menghadapkan diri pada cermin kebenaran guna mengevaluasi kualitas moral serta spiritual kita yang kian hari kian diuji oleh arus zaman. 

         Buku ini lahir dari keprihatinan yang mendalam terhadap feno-mena pergeseran nilai adab di tengah masyarakat kita saat ini. Kita hidup di zaman di mana setiap orang memiliki ruang yang sangat luas untuk berbicara, berkomentar, dan berekspresi, namun di sisi lain, kese-diaan untuk mendengar dan menghormati sesama justru semakin me-mudar. Ruang publik dan media sosial yang seharusnya menjadi jembatan ilmu dan kebijaksanaan kerap kali berubah menjadi panggung egoisme, di mana suara-suara saling bertabrakan tanpa adanya upaya untuk saling memahami, melahirkan generasi yang pandai berkomentar tetapi miskin akan kesopanan.

         Di dalam lembaran-lembaran buku ini, pembaca akan diajak untuk membedah berbagai gejala krisis moral yang semakin nyata di sekitar kita. Berbagai fenomena sosial yang mengkhawatirkan, seperti anak yang berani menasihati orang tua dengan nada merendahkan, hingga murid yang dengan mudah menghakimi dan mempermalukan gurunya secara terbuka, diulas secara tajam untuk melihat sejauh mana indivi-dualisme dan budaya instan telah merusak tatanan hubungan antar-manusia. Kemudahan akses informasi digital tanpa disadari telah melahirkan ilusi pengetahuan yang menumbuhkan kesombongan inte-lektual, sehingga batas-batas kepantasan dan sekat-sekat adab perlahan-lahan runtuh.

 

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url