Arat Sabulungan di Persimpangan Zaman: Etnografi Kebebasan Beragama dan Politik Rekognisi Komunitas Adat Mentawai

 


Judul Buku                 : Arat Sabulungan di Persimpangan Zaman: Etnografi Kebebasan Beragama dan Politik Rekognisi Komunitas Adat Mentawai

Penulis                        : Jamaldi, M.Ag ; Dr. Pismawenzi, M.Ag ; Imanul Akmal

Editor                         : Nandi Pinto, S.Th.I., M.Ag

Tata Letak                  : Jamaldi, M.Ag

Desain Sampul           : Imanul Akmal (foto cover berasal dari canva.com premium berbayar)

                 

                 

 

Diterbitkan oleh:

Penerbit Fahmi Karya

Anggota IKAPI No. 047/SBA/2024        

Jl. Gunung Bungsu RT 01/RW 02, Sumur Cindai

Kelurahan Tiakar, Kota Payakumbuh, Sumatera Barat 26231

HP/WA     : 081377856115

Email         : penerbitfahmikarya@gmail.com

Website    : www.penerbitfahmikarya.com 

 

 

Cetakan Pertama, Februari 2026

x + 124 hlm: 15,5 x 23 cm

Front CAMRIA, 1,15 Spasi, Size 11

 

SINOPSIS

 

 

Buku ini sebuah catatan reflektif yang lahir dari kegelisahan panjang mengenai nasib agama-agama lokal di Indonesia. Di tengah deru modernitas dan narasi besar kemajuan bangsa, suara-suara dari pedalaman Siberut seringkali terpinggirkan, tertimbun oleh dominasi masyarakat arus utama yang belum sepenuhnya inklusif dalam memaknai keberagaman.

Selama berpuluh-puluh tahun, penganut kepercayaan lokal di Indonesia hidup dalam bayang-bayang tekanan negara. Meskipun era Reformasi menjanjikan euforia kebebasan, realitanya kelompok penganut kepercayaan masih harus menempuh jalan sunyi untuk sekadar diakui eksistensinya. Hak-hak sipil yang bersifat elementer, seperti pencantuman identitas kepercayaan pada kartu kependudu-kan, seringkali menjadi medan pertempuran administratif yang melelahkan bagi mereka yang memilih setia pada warisan leluhur.

Kehadiran Keputusan Mahkamah Konstitusi Nomor 97/PUU-XIV/2016 sebenarnya telah menjadi fajar baru yang membuka pintu rekognisi yang selama ini tertutup rapat. Namun, buku ini berargumen bahwa pintu yang terbuka belum tentu menjamin akses yang tersedia bagi semua. Ada jurang yang lebar antara pengakuan hukum di atas kertas dengan implementasi sosial di lapangan, di mana stigma dan prasangka masih sering menjadi penghalang bagi warga negara untuk mendapatkan haknya secara utuh.

Suku Mentawai dengan sistem kepercayaan Arat Sabulungan menjadi fokus utama dalam studi etnografi ini. Melalui lensa politik rekognisi, buku ini memotret bagaimana komunitas adat di Kepulauan Mentawai bergulat dengan warisan diskriminasi struktural yang telah berlangsung lebih dari setengah abad. Arat Sabulungan bukan sekadar rangkaian ritual, melainkan sebuah filosofi hidup yang menempatkan harmoni antara manusia, alam, dan roh sebagai poros utama keberadaan mereka.

 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url